Seputar Peradilan

KEWAJIBAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

pa-brebes.go.id|22-05-2018

Ramadhan hari ke 6. sesuai dengan jadwal jama`ah Sholat Dzuhur bersama adalah Drs. Lanjarto, M.H. (Wakil Ketua Pengadilan Agama Brebes) yang bertugas sebagai Imam dan Pengisi Kultum hari ini. diawali dengan pembukan yang dibawakan oleh Alfa Sakan, SE. (Kasubag IT dan Pelaporan), selanjutnya diteruskan dengan Kultum yang bertemakan "Kewajiban Berpuasa Di Bulan Ramadhan".

Dalam Kutipannya beliau menjelaskan Makna dari Surah Al-Baqarah Ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ -١٨٣

  1. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.

Ayat 183 menegaskan diwajibkannya satu bentuk ibadah yang disebut puasa (as-siyam) kepada orang-orang beriman, seperti telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum mereka. Puasa dimaksud, sebagaimana dijelaskan berbentuk menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami isteri dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti merokok atau minum obat sejak fajar terbit hingga matahari terbenam.

Ayat ini dimulai dengan seruan ya ayyuhal-lażina amanu (Hai orang-orang beriman). Kata seru “ya” yang berarti ‘hai’ dalam ungkapan ya ayyuhal-lażina amanu,  menurut para ahli paramasastra Arab adalah kata seru untuk memanggil orang pada jarak jauh.

Orang beriman adalah orang yang dekat dengan Allah SWT, namun disapa dengan kata seru untuk jarak jauh guna menunjukkan bahwa isi pesan yang diserukan kepada (Hai orang-orang beriman).  Seruan itu menunjukkan bahwa isi pesan yang disampaikan berupa ketentuan-ketentuan dan kewajiban hukum syariah yang khusus ditujukan kepada orang-orang beriman.

Kata as-siyam dan terkadang dipakai as-saum adalah bentuk masdar dari kata kerja lampau sāma. Secara harfiah kedua kata itu berarti menahan diri atau tidak melakukan sesuatu. Dalam pengertian terminologi syariah puasa (as-siyam) adalah tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami-isteri serta tidak melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat melaksanakan perintah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan kata saum dipakai untuk menunjukkan arti diam (tidak berbicara).

Sedangkan pada bagian akhir ayat 183 menjelaskan hikmah berpuasa, yakni membentuk manusia yang bertakwa. Takwa merupakan gabungan sifat-sifat keimanan yang kuat dan sifat-sifat solidaritas dan kesadaran sosial yang mendalam. Semoga Kita semua termasuk orang yang bertaqwa dan benar-benar memperoleh Barokah dan Kemenangan di Ramadhan ini. Kultumpun selesai dan ditutup dengan Tadarus bersama. (Tim_red)

  Pelayanan Prima, Putusan Berkualitas